Senin, 18 Maret 2013

Travel notes: Mata Jitu Waterfall, Moyo Island, Sumbawa



Oke sebelum kecewa, gue di sini mau nulis tentang pengalaman pergi ke Pulau Moyo. Bukan liburan a la Lady Di atau Bill Gates di Amanwana, tempatnya sih masih di pulau yang sama, tapi itu resort yang selain tamu emang ga boleh masuk, kecuali mau nyamar jadi pegawai yee. FYI, per malam di sana $800 + supplementary cost $135/orang. Jelas secara pendanaan, seorang dokter internsip gak bakal mampu nginep di sana.

Trip ini direncanain dadakan banget. Awalnya gara-gara di Pantai Kencana ada bapak-bapak lagi sepedahan ngajak ngobrol Bang Nico (kakaknya Sandry) trus bapak itu cerita tentang Pulau Moyo. Kakaknya Sandry emang dari awal penasaran dengan pulau ini. Di akhir pembicaraan Bang Nico dapet nomer nelayan yg bisa ngangkut kita pake kapalnya dengan harga Rp 600.000/kapal.

Ekspektasi awal kami tentang kapal ini emang gak boleh tinggi, namanya juga kapal nelayan. Udah ekspektasi gak tinggi, begitu liat kapalnya tetep aja kaget! Kecil banget cuy, udah gitu bakal diisi 10 orang termasuk Pak Kaharudin (nelayan). Suara mesin kapal cukup untuk membuat Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) apalagi paparan berjam-jam. Info awal perjalanan ke Moyo ini sekitar 1-2 jam, ternyata pas naik kapal dikasih tau kalo pake kapal ini perjalanan 3 jam lebih. Buat orang-orang yang mengutamakan keselamatan emang ga direkomendasi pake moda transportasi ini. Bisa naik Travira Air dari Denpasar ke Moyo mendarat di air dengan harga $400/orang/one-way.

bentukan kapalnya, diisi oleh 10 orang

Perjalanan pun dimulai. Walaupun kapalnya jalan di atas air, tapi getaran mesin rruaaarrr biasaaa. Getarnya bisa disamain sama getaran bajaj, bahkan lebih. Suer kaga pake bohong. Ibarat naik bajaj 3 jam dari Jakarta-Bandung lewat puncak.

Selama perjalanan, berbekal sedikit ilmu pengetahuan THT dan Kesehatan Okupasi, kami membuat tutup telinga darurat menggunakan kertas tissue dan kertas resep.
penutup telinga darurat, anti NIHL

Satu jam perjalanan, takjub dengan kejernihan laut Sumbawa. Walaupun gue liat gelas Ale-ale asik ngapung di tengah laut siih... Tapi masih membuat gue kagum.
Sekitar setengah perjalanan, tiba-tiba Pak Kaharudin pindah tempat duduk dan buka bagian bawah kapal. Dengan santainya dia ambil gayung dan ngomong “saya mau nimba, kapalnya bocor”. Oke, ini baru setengah perjalanan loh.
"saya mau nimba air, bocor kapalnya..."

Di ¾ perjalanan, kita dikagetkan dengan sirip-sirip di permukaan laut. Setelah diperhatikan, ternyata kawanan lumba-lumba! Mereka bener-bener loncat-loncat tinggi banget. Begitu kapal mendekat, mereka seperti ‘mengawal’ bajaj laut kami. Ini untuk kali pertamanya sih liat Lumba-lumba liar langsung di alam bebas. Selain lumba-lumba juga banyak ikan terbang yang lalu-lalang di sekitar kapal.


Video Lumba-lumba diambil pake kamera gue biar sekalian denger betapa berisiknya kapal ini.


Disambut Lumba-lumba
Jernih banget airnya
Pulau Moyo dari Kapal


Oke, sampailah kami di Pulau Moyo. Kami masuk dari perkampungan Labuhan Aji, Kecamatan Labuhan Badas. Penduduk sini hampir 50% adalah karyawan Amanwana Resort. Sisanya bekerja sebagai buruh tani, ternak, guru, atau berdagang.



Suasana Kampung di Pulau Moyo


Begitu sampe, langsung kencing di warung, terus makan siang di pinggir pantai. Pantai di perkampungan ini harusnya indah. Tapi masyarakatnya belum bisa merawat rumahnya sendiri. Sampah plastik bergelimpangan di atas pasir. Makanya trip kali ini gue ga terlalu main sama laut, pantai, dan sejenisnya. Bahkan guide kami buang sampah sembarangan, dan akhirnya malah kami yang mungut sampahnya dia.



View pantai di Labuhan Aji, Pulau Moyo

Selesai makan, kami langsung menuju ke Air Terjun Mata Jitu yang berjarak 4 km dari kampung ini dan ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Kami menyewa guide lokal yang pekerjaan sehari-hari adalah guru SD. Sebetulnya tanpa guide juga bisa sampe, karena jalannya cuma itu-itu aja. Tapi buat amannya dan ngasih pemasukan warga lokal akhirnya kami menyewa guide dengan biaya Rp 75.000,-.

Perjalanan ke Air Terjun Mata Jitu cukup melelahkan, apalagi bagi yang belum terbiasa trekking. Perjalanan menanjak landai dan sesekali banyak batu-batu kapur tajam di tengah jalan. Kami karena tanpa persiapan, pake sendal jepit aja naiknya. Sendal jepit ini memakan satu korban, Endrika kakinya melepuh karena gesekan sendal yang akhirnya putus di tengah jalan.

Jalan menuju Air Terjun Mata Jitu

Begitu sampe di Air Terjun rasa capek terbayar sudah. Hamparan sungai berair biru-muda-kehijauan dengan dasar batu kapur berwarna putih cukup untuk bikin gue ga bisa nahan diri untuk langsung nyebur. Airnya seger banget, ditambah ga ada orang sama sekali. Lingkungan bersih tanpa sampah.





Mata Jitu Waterfall

Begitu selesai main air, kami langsung turun karena kami dikejar waktu biar gak malem banget sampe di Labuhan Sumbawa. Di perjalanan pulang, cuaca cerah banget dan dapet ngeliat sunset sampe berubah jadi terang bulan sabit. Langitnya penuh bintang, bener-bener full kayak taburan pasir mengkilap, mungkin gue terlalu lebay kali ya liat langit begini. Di Jakarta sih jangan harap.



Suasana Perjalanan Pulang

Selasa, 19 Februari 2013

Catatan Dokter Internsip: Wahana Internsip


Rumah Sakit dan Puskesmas yang digunakan oleh dokter internsip disebut “Wahana Internsip”. Ketika disebut kata “wahana”, yang terpikir pertama kali oleh gue adalah Dufan! Setelah gue cek KBBI online, arti kata wahana adalah sebagai berikut:

1 wa.ha.na 1 a kendaraan; alat pengangkut ; 2 a alat atau sarana untuk mencapai suatu tujuan
2 wa.ha.na 1 a tafsir mimpi; alamat

Hmmm.. no comment.. oke, lanjut aja.

Berhubung gue ditugasnya 4 bulan pertama di RSUD Sumbawa, gue akan ceritain garis besar bentuk dan gambaran ‘wahana internsip’ gue.

RSUD ini termasuk cukup lengkap. Fasilitasnya mulai dari poliklinik (bedah, kebidanan, mata, anak, penyakit dalam, psikologi, dan THT), Kamar Operasi, Ruang Rawat Inap, ICU, Radiologi, Laboratorium, Fisioterapi, Pemulsaran Jenazah, dan IGD.

Sistem kerja dokter internsip di sini cukup menyenangkan dan sangat bermanfaat dari segi keilmuan. Kami bertugas di 4 bagian besar (bedah, obgyn, penyakit dalam, dan anak) selama masing-masing 4 minggu. Tiap bagian kita akan ditempatkan di poliklinik dan ruangan, masing-masing selama 2 minggu.

Kerja poli mulai pukul 08.00-13.00, sedangkan kerja ruangan mengikuti dokter spesialis. Pada rotasi bedah dan kandungan kami berkesempatan untuk ikut terlibat dalam kamar operasi dan mengikuti seluruh kegiatan operasi. Khusus untuk poli kadungan, kami juga diajari mengoperasikan dan memeriksa pasien kandungan menggunakan USG.

Berikut foto-foto penampakan RSUD Sumbawa:





Jalan Raya (view dari depan RSUD).

View dari RSUD menghadap Kantor Bupati.

Tampak depan.

Tampak halaman depan.

Lorong, ada penampakan The Legendary Ibu Yok perawat anak lagi bawa status pasien.

Ruang Komite Medik, tempat istirahat dan berkumpul para dokter.

Iqra lagi periksa pasien pake USG.

Mejeng di IGD sama dokter senior.

Moda transportasi dokter internsip, Ojek!


Sabtu, 16 Februari 2013

Berak dan Cebok, Cerita Masa TK


Kemarin sore gue dan temen-temen internsip ngobrol tentang profesi guru TK dan berujunglah dengan cerita memalukan masa kecil. Ya, berak di celana.

TK A (nol kecil) adalah puncaknya rekor gue berak di celana, saking seringnya gue gak inget berapa kali sampe menganggap berak di celana adalah hal biasa.

Gue kasitau dulu sebelumnya kalo gue baru pake celana dalem itu SD. Artinya, selama TK gue ga pernah kenal itu yang namanya celana dalem. Kebayang dong apa yang terjadi kalo bocah-tanpa-celana-dalem berak di celana. Eek langsung keluar lewat sela-sela paha (seragam TK waktu itu celana pendek). Apalagi kalo berdiri, tai langsung meluncur dari pantat turun ke paha terus berlanjut ke betis dan berujung di kaos kaki + sepatu, sisanya belecetan di lantai.

Celakanya kalo berak di celana, korbannya adalah temen-temen gue. Anak TK yang rasa penasarannya tinggi pasti pengen liat apa yg terjadi. Karena belum dibekali pengalaman yang matang, temen-temen gue yang pada penasaran ngeliat apa itu “tai” langsung muntah di tempat. Temen-temen lain yang udah agak pinteran dikit untuk tidak penasaran malah terkena imbas dari anak yg muntah ini. Ini lah yang jadi bencana, efek domino dimulai:

gue berak à temen liat berak à muntah à temen lain gak mau liat tai à tapi malah liat muntah à jijik à ikutan muntah.

Inilah tantangan guru TK, harus bisa memutus rantai berak-muntah ini. Akhirnya gue diboyong ke kamar mandi. Celana dicopot dan dicebokin. Inget lagi, guru TK itu harus bisa nyebokin bocah. Parahnya, saking seringnya juga, gue tetep menganggap dicebokin orang lain adalah hal biasa.

Ketika gue udah TK B (nol besar), gue udah mulai melatih bowel habit. Tiap pagi berusaha runtin berak, tapi tetep harus duduk di kloset dalam waktu yang lama. Terkadang ini yang bikin gue ketinggalan jemputan. Abang jemputan gue pun udah hapal, jadinya dia jemput anak lain di komplek dan baru jemput gue terakhir.

Walaupun udah dikeluarin pagi-pagi, kadang masih ada ampas yang minta keluar di sekolah. Dengan nahan sekuat tenaga, bulu tangan udah berdiri semua, keringet udah segede jagung akhirnya gue menyerah dengan maju ke depan kelas ijin untuk ke kamar mandi. Guru gue yg udah hapal pun langsung nanya “mau kencing apa eek?” *dulu belum ngetren istilah pup* dengan tegas gue jawab “ee’ bu guru!” “sudah bisa cebok sendiri kan?”. Karena gengsi sama temen lain, gue jawab “udah”. Padahal gue gak tau gimana caranya cebok, apalagi cebok pake sabun.

Alhasil, gue keluar kelas dan menuju kamar mandi. Gue dulu takut banget kalo masuk kamar mandi yang tertutup. Akhirnya gue berak dengan pintu kamar mandi terbuka. Setelah keluar semua, akhirnya datang juga waktu yang ditunggu-tunggu, CEBOK. Karena bener-bener gak tau caranya akhirnya gue jongkok lamaaaaa banget sampe akhirnya cleaning service menyadari keberadaan gue yang gak bergerak dari posisinya. Akhirnya dia nyamperin, dan gue bilang “mas, cebokin..”. 

Catatan Dokter Internsip: Hari Pemberangkatan


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Yaitu hari pemberangkatan rombongan internsip wilayah NTB. Namun untuk NTB pemberangkatan dipisah menjadi dua kelompok, karena secara geografis memang lebih efisien. Rombongan pertama yang berangkat pagi hari adalah wilayah Bima dan Dompu, kemudian disusul dengan rombongan Lombok Utara dan Sumbawa.

Untuk wilayah Bima-Dompu, mereka mendapat pengarahan di Bima. Sedangkan untuk Lombok-Sumbawa di Mataram.

Bergaya dulu di atas Kapal Ferry dari Lombok menuju Sumbawa
(Iqra - Endrika - Sandry - Yuki - Gue)

Setelah pengarahan di Hotel Grand Legi Mataram, rombongan Sumbawa langsung berangkat menuju Kota Sumbawa dengan menggunakan travel Sumbawa Utama. Dengan menggunakan 2 minibus, perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 6 jam (4 jam jalan darat + 2jam kapal feri). Kita tiba sekitar jam 10 malam, di rumah kos pertama kami yang berada di Gang Mamak.

Setelah  disambut dengan pembimbing (dr. Kosala dan dr. Cindri), kami diberikan nasi kotak. Rumah kos pertama kami termasuk ekonomis, karena dengan fasilitas yang didapat (AC, kamar mandi dalam) dikenakan biaya Rp. 700rb/bulan. Satu kamar diisi dengan dua tempat tidur, berarti kami hanya membayar 350rb/bulan/orang. Tapi lokasi kos ini cukup jauh dari RS maupun Puskesmas. Selain itu, kami juga mendengar kabar dari supir travel kami bahwa daerah pemukiman tersebut adalah daerah pemukiman Bali. Daerah pemukiman Bali dikenal dengan banyak anjing yang berkeliaran dan beberapa tempat penjualan minuman keras.

Setelah 2 malam kami tinggal di sana, akhirnya kita memutuskan untuk pindah ke rumah kos yang baru. Jaraknya hanya sekitar 7 menit jalan kaki ke Rumah Sakit dan sekitar 20 menit jalan kaki ke Puskesmas. Lingkungannya asri dan masjid hanya berjarak sekitar 3 rumah. Tapi biayanya 3 kali lipat. Hehehe..

Penampakan Tempat Kos yang Baru :)

Catatan Dokter Internsip: Pre-Internsip


Persiapan sebelum berangkat internsip yang paling repot adalah pengurusan berkas-berkas STR, penentuan wahana internsip, briefing sebelum berangkat, hingga proses keberangkatannya.

Kalo masalah packing, gue gak terlalu menemukan masalah. Prinsip packingnya adalah bawa hanya keperluan untuk hidup selama dua minggu, karena dengan perlengkapan selama dua minggu, barang-barang yang tidak habis pakai seperti baju dan lainnya bisa berputar. Lagian selama perginya bukan ke daerah yang warganya telanjang, bawa duit aja juga bisa hidup.

Wahana internsip untuk rombongan periode November 2012 adalah Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Bengkulu, dan kampungnya vokalis band Radja, Kalimantan Selatan (Kasela). Lalu ada dua propinsi tambahan yang sifatnya volunteer alias bukan pilihan wajib, yaitu Sentani Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari masing-masing propinsi, para dokter internsip ini dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil berjumlah 4-6 orang per kelompok. Tiap kelompok ini yang nantinya akan disebar ke kabupaten-kabupaten tiap propinsi.

Berikut daftar wahana internsip kabupaten dari tiap-tiap propinsi,

NTB: Lombok Utara, Sumbawa, Dompu, Bima
Bengkulu: Muko-muko, dan lainnya gue lupa.
Kalimantan: Tabalong, Mempawah, Tanah Laut, Tanah Grogot, dan sisanya juga lupa.
NTT: Ruteng, Maumere, Kupang, Larantuka
Papua: Sentani (Yowari)

Semua biaya pemberangkatan (transport taksi rumah-airport, pesawat, transportasi lokal, dan akomodasi) ditanggung oleh Kemenkes. Begitu juga dengan pemulangan.

Catatan Dokter Internsip: Intersip bukan Internship


Setelah hampir 3 bulan menjalani internsip, akhirnya gue nulis juga. Niatnya sih mau nulis pengalaman internsip mulai dari persiapan, tapi…. Ya begitulah… tiap buka laptop malah buka Youtube dan nonton AKB 48 dan berakhir di Koko Gorilla.


Apa itu Program Internsip Dokter Indonesia?
Oke di sini gue akan memaparkan apa itu Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI). Buat yang udah tau atau ga mau tau boleh di-skip aja, lumayan panjang soalnya.

Kata “Internsip” (tanpa huruf ‘H’) berasal dari, mungkin, Bahasa Inggris “internsHip” dengan “H”. Sebelum ada program ini gue juga baru tau kalo istilah ada kata internsip tanpa “H”, biasanya sih ya ‘magang’ aja.

Oke, lupakan dengan hal yang gak penting itu. Lanjut ke intinya, Internsip adalah ‘program magang’ atau ‘program pematangan’ bagi dokter yang baru lulus. Mereka ditempatkan di Rumah Sakit (RS) tipe C/D selama 8 bulan dan Puskesmas 4 bulan. Selama 8 bulan di RS dan Puskesmas, dokter baru ini ditargetkan untuk menangani 400 kasus ditambah dengan mini project berupa penelitian atau penyuluhan yang dilakukan pada saat bertugas di Puskesmas. Mereka hanya boleh berpraktik di wahana internsip yang ditunjuk, dengan kata lain dokter internsip belum boleh membuka tempat praktik pribadi ataupun bekerja di luar wahana yang ditunjuk.

Program Internsip dimulai pertama kali pada Februari 2010 di Sumatera Barat. Itu Sekitar 3 tahun yang lalu ketika tulisan ini dibuat. Peserta internsip merupakan para lulusan dokter yang menjalani kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Sebelum mengikuti internsip, para lulusan dokter baru ini wajib lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) terlebih dahulu, sehingga dianggap ilmunya sudah ‘kompeten’ sebagai dokter.

Durasi pendidikan KBK adalah 10 semester di mana kurikulum sebelumnya berdurasi 12 semester. Para dokter baru ini seolah-olah dapat diskon dua semester, otomatis paparan ke pasien menjadi kurang. Ini juga salah satu tujuan internsip, pematangan pengalaman klinins para dokter baru.

Apa Internsip cuma ada di Indonesia?
Program Internsip memang baru di Indonesia, tapi tidak di negara lain. Contohnya, di Inggris (gua juga gatau mulainya kapan, yang jelas lebih lama dah), setelah menjalani program pendidikan kedokteran para dokter baru ini melanjutkan program seperti internsip selama dua tahun. Mereka ditempatkan di rumah sakit sebagai house officer, di mana tahun pertama (FY1) mereka disebut Junior House Officer (JHO) dan tahun kedua (FY2) sebagai Senior House Officer (SHO). Setelah  menjalani program ini mereka dapat melanjutkan training sebagai spesialis ataupun dokter umum/layanan primer (General Practice).

Apa bedanya dengan pelaksanaan internsip di Indonesia? Pertama, durasinya. Kedua, gajinya! Hahaha..

Digaji gak sih?
Istilah magang atau internship bukan hanya dilakukan profesi dokter, namun profesi lain juga. Pada profesi lain, magang itu terkadang ada yang digaji ada yang tidak. Malah ada yang harus membayar biaya tertentu untuk dapat magang.

Apa dokter internsip ini digaji? Jawabannya tidak! Karena yang mereka dapatkan memang bukan gaji, melainkan “bantuan biaya hidup” yang dananya diambil dari pusat (APBN) melalui Kementerian Kesehatan.

Dokter internsip sampai tulisan ini dibuat diberikan bantuan sebesar Rp. 3.600.000,- yang dibayarkan tiap tiga bulan. Ngenes emang kalo nganggep itu sebagai gaji, tapi sekali lagi, itu bukanlah gaji.

Namun beberapa daerah dan Rumah Sakit ada yang memberikan insentif yang jumlahnya bervariasi. Ada yang, konon, diberikan insentif hingga 3-5 juta rupiah. Beberapa RS tertentu juga memberikan jasa medis dari tindakan yang dilakukan, ada juga yang memberikan upah jaga.

Kenapa harus internsip?
Internsip di Indonesia merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR). STR ini adalah surat yang mengakui bahwa seseorang itu adalah dokter resmi yang terdaftar di Indonesia. STR selanjutnya dapat digunakan untuk mengurus Surat Ijin Praktik (SIP). Jadi dokter tanpa STR tidak dapat berpraktik di Indonesia.


Selain itu perdagangan bebas AFTA kabarnya tenaga kesehatan asing termasuk dokter dapat berpraktik di Indonesia. Namun, untuk dapat berpraktik di Indonesia para dokter asing ini harus menjalani sistem yang sama dengan dokter lokal, yaitu lulus ujian kompetesi (UKDI) dan menjalani satu tahun internsip di daerah.

Gosipnya mau jadi dua tahun?
Ada kabar yang mengatakan pelaksanaan internsip menjadi dua tahun namun diintregasikan dengan program Pegawai Tidak Tetap atau yang biasa disebut PTT. Bila program ini dilaksanakan, dokter internsip tidak lagi mendapatkan bantuan hidup dasar, melainkan gaji. Gaji dokter PTT tergolong sangat besar bila dibandingkan dengan bantuan hidup dokter intersip, mungkin bisa mencapai 10 kali lipat atau lebih. Tapi itu masih wacana loh.

Semoga pelaksanaan internsip dapat ditingkatkan terus sehingga semua tujuan mulianya dapat tercapai. Amiin.

Bangun dari Mati Suri

Terakhir gue update blog ini adalah 3 November 2011. Itu juga post ngetes nulis blog via iOS. Sedangakan tulisan 'beneran' ditulis tanggal 3 September 2010. berarti udah 2 tahun lebih gak disentuh!

Kalo blog ini diibaratkan dengan buku. Mungkin udah ilang,  keselip, kebuang, didaur ulang jadi kertas koran, korannya dipake buat nutupin korban kecelakaan, terus dibuang lagi, didaur ulang lagi, jadi koran lagi, dipake solat Ied, dibuat ngelap pantat ayam, trus dibuang, dipungut abang gorengan, dijadiin pembungkus gorengan, gue beli gorengan, dibungkus pake koran tadi, dan terakhir gue ngomong "kok gorengannya rasa tai ayam ya?"........ Gak usah ditanya kenapa gue tau rasa tai ayam.

Oke, gue akan ngasih garis besar kejadian-kejadian apa aja yang sudah terjadi selama blog ini dianggurin. (kayak ada yg baca blog ini aja)

1. Gue niat nulis tentang kehipan koas (mahasiswa klinik) yang menyenangkan, sedih, capek, menarik, lucu, dan lain-lain di dalam blog ini.
2. Niat itu entah kabur ke mana.
3. Gue udah lulus jadi dokter. *hore
4. Gue udah lulus ujian kompetensi
5. Gue sedang menjalani internsip di Sumbawa
6. Gue berusaha nulis pengalaman internsip di Sumbawa

Doakan kehidupan di Nusa Tenggara Barat ini bisa terdokumentasi dengan baik di blog ini.

Titik.

=)