Minggu, 31 Maret 2019

Why Urology?

Sekarang gue mau cerita tentang spesialisasi yang gue ambil. Yaitu Urologi, suatu cabang ilmu bedah yang sudah memiliki sistem pendidikan langsung Sp1 (tidak perlu spesialis bedah umum terlebih dahulu).

Urologi tuh apa sih? Intinya sih dokter perkencingan (plus andrologi). Mulai dari diagnosis, terapi medika mentosa hingga pembedahan tercakup semua. Paling sering penyakit batu saluran kemih, prostat, dan kawan-kawannya (trauma, onkologi, dll).

Gue mungkin bakal cerita banyak ttg Urologi UI.
Ujian masuk jaman gue (Juli 2015) terdiri dari tes kesehatan umum, tes mata (buta warna, stereoskopi, lapang pandang), ujian tulis, bahasa inggris, dan wawancara. Cuma sejak 2017 kalo ga salah udah mulai ada ujian TPA yang diselenggarakan oleh UI Pusat.

Penerimaan tiap angkatan bervariasi, 5-8 orang. Dengan 2-3 orang dari tiap angkatan akan dikirim untuk pendidikan Urologi di Medan (chief balik ke Jakarta, sertifikat lulus dari UI).

Residensi Urologi di FKUI lama pendidikannya 5 tahun (10 semester). Dengan pembagian 1 semester kuliah-kuliah magister (filsafat, biokim, biomol, statistik, dll.). Kemudian Pendidikan Bedah Dasar 2 semester (Digestif, Toraks+Vaskular, Plastik, Ortho, Onkologi, IGD, Anestesi, Bedah Anak). Kemudian 7 Semester pendidikan Urologi (Urologi dasar dan urologi lanjut).

Biaya pendidikan?
Uang masuk 15 juta dan semesteran 7,5 juta. Total untuk biaya pendidikan sekitar 90 juta (sampai selesai). Di dalamnya ga ada lagi pungutan-pungutan ataupun sumbangan. Secara umum senioritas di Urologi bukan yang kejam masalah finansial (harus bayarin makan senior dkk.).

Center urologi pun di Indonesia belum banyak. Pendidikan Urologi baru dibuka di 5 tempat, yaitu: Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja, dan Malang. Jumlahnya pun belum banyak, sampai dengan saat ini jumlah urolog di Indonesia belum 400 orang.

Cerita awal
Setelah selesai internship gue langsung daftar magang di departemen urologi sebagai asisten penelitian. Di sana gue terpapar dengan lingkungan kerja departemen, operasinya, dan tetek bengek administrasi (mostly kerjanya magang itu paperworks). Gue magang selama hampir 2 tahun. Ya, selama itu. Alesannya karena waktu itu gue mau nyiapin nikahan dulu.

Kenapa magang?
Tujuan gue magang itu awalnya pengen memastikan gimana sih secara kasat mata bentuk urologi. Karena ini pilihan karir seumur hidup, ga mungkin dong gue menjalani pekerjaan yang ternyata ga gue suka seumur hidup. Alahmdulillah sih dari keilmuan dan suasana lingkungan kerjanya, gue cocok.

Kenapa Urologi?
Kalo mau lebih jelas ada video youtube tentang “Why Urology” di youtube (link). Kira-kira gambaran urologi di Amerika mirip-mirip lah. Urolog dianggap sebagai “bunch of happy surgeon”.

Secara keilmuan, Urologi sangat menarik (paling ga buat gue). Karena bisa dibilang perfect combination antara medical and surgical. Ilmunya dapet, bedahnya dapet.

Alasan lain, gue orangnya males berdiri lama, selain kaki gue yg emang flat-foot, ternyata durasi operasi Urologi itu rata-rata ga lebih dari 1 jam. Sebagian besarpun operasi urologi tuh duduk! Hahaha. Kemudian untuk timbal baliknya juga lumayan, karena operasi urologi dianggap operasi khusus (gue juga baru tau setelah magang, jd emg bukan motivasi utama).

Kemudian urologi bukan tipe hit-and-run surgeon, artinya lo bisa berintaksi dengan pasien dalam jangka panjang. Konsultasi poliklinik pun cukup banyak. Jadi buat gue yang seneng ngobrol sih suka dengan ilmu ini.

Panggilan cito? Urologi termasuk cabang bedah dengan angka gawat darurat yang relatif tidak banyak. Sehingga bisa tidur tenang lah. Kalau pun bener-bener emergency biasanya juga dikirim kle center yang urologinya 24 jam (yang ada residennya) :p.

Dulu pilihan gue pas lulus itu memang udah mengerucut ke surgikal atau dunia bedah. Pilihan gue saat itu adalah Urologi, Ortho, Mata (yes, mata), dan Bedah Umum.

Nyesel ga pilih urologi? alhamdulillah gak sama sekali.

Sabtu, 30 Maret 2019

Nasib Seorang Residen (pendahuluan)

Sebelum masuk ke cerita suka-duka menjadi residen gue pengen kasih tau dulu mengenai apa sih itu residensi.

Singkatnya, residensi itu adalah sistem pendidikan seorang dokter untuk menjadi dokter spesialis.

Nah, versi panjangnya begini nih..


Kata “Residen" berasal dari bahasa latin “residere” (remain). Dalam bahasa Inggris, kata “resident” diartikan sebagai (1) "a person who lives somewhere permanently or on a long-term basis”; (2) "a medical graduate engaged in specialized practice under supervision in a hospital.

Sebetulnya dua-duanya ada benernya, karena…. poin (1) seorang residen itu lebih banyak menghabiskan waktu di RS (alias kagak pulang-pulang), dan yg poin (2) juga definisi lebih tepatnya untuk seoraang dokter yg sedang mengambil spesialisasi bidang tertentu.

“Residen" yg gue maksud di sini adalah nomor (2). Seorang lulusan dokter yang sedang mengambil spesialisasi di suatu RS (atau institusi lebih tepatnya). Kenapa gue sebut institusi, karena beda negara beda sistem. Hampir seluruh dunia, residensi itu hospital-based di mana residen itu dilatih sebagai seorang spesialis di satu rumah sakit. Berbeda dengan sistem di Indonesia yang University-based.

Di Indonesia, pendidikan spesialis diselenggarakan oleh universitas dalam bentuk Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Seorang dokter akan mendaftar sebagai murid lagi untuk belajar. Nah, implikasinya apa? (penting nih).

Kalau hospital-based, kalian mendaftar sebagai karyawan di RS tersebut. Jadi kalo karyawan kan bekerja, kalo kerja dapet gaji. Kalau di Indonesia, dengan sistem university-based, seorang dokter mendaftar lagi menjadi murid. Murid itu daftar sekolah, terus diterima, terus dikasih pelajaran, dan jangan lupa lo harus bayar uang sekolah. Gitu….

Tapi sekarang sih sudah ada sistem remunerasi bagi residen (katanya ga di semua center, tapi FKUI/RSCM ada dong). Meskipun, kalau dibandingkan dengan UMR memang jauh di bawah UMR. Residen junior rata-rata dapet 1 jutaan/bulan, residen tengah-tengah nyaris dapet 2 jutaan/bulan, residen senior dapet hampir 3 juta/bulan.

Remunerasi juga ga turun tiap bulan, sehingga para residen pun nganggep uang remun itu sebagai bonus aja gitu. Dapet sukur, ga dapet ya udah.

Jadi buat dedek-dedek yang bercita-cita menjadi dokter, silakan berpikir ulang. Karena betul kata orang-orang jaman dulu, dokter sekolahnya lama (kalo mau jadi spesialis). Karena lo harus jadi anak sekolah lagi setelah lulus menjadi dokter.

Dilemanya adalah, ketika lulus menjadi dokter (umur 20an awal) itu masuk usia produktif, di mana temen-temen kalian non dokter udah mulai kerja sebagai fresh graduate. Ya memang, kalau memang pengen sebagai dokter umum saja bisa langsung kerja (dengan THP berkisar 10-20 juta/bulan— kalo rajin).

Tapi, yaa kalau mau jadi spesialis harus sekolah lagi. Artinya, income lo minus (karena harus bayar uang sekolah). Lama pendidikan spesialis sekitar 4-6 tahun (tergantung spesialisasinya). Nah kebayang kan panjangnya pendidikan dokter untuk menjadi spesialis.


1. Kuliah S1 (S.Ked) — 3,5 - 4 tahun
2. Pendidikan Profesi (dr.) — 1,5 - 2 tahun
3. Internship — 1 tahun
4. Spesialis — 4-5 tahun

TOTAL 10 - 12 tahun SEKOLAH (kalo lancar)

Waktu tersebut belum ditambah dengan jeda menunggu antara lulus dan penempatan internship, di beberapa FK ada jeda antar stase sehingga pendidikan dokternya pun memanjang. Belum lagi jeda untuk menunggu pembukaan spesialis (2 kali setahun).

Ha.. ha.. ha.. Masih mau jadi dokter?

Masih dong, kalo memang tekad dan tujuan awal apapun harus dijalani. (Padahal gue baru tau begini setelah kecemplung wakakak)

Kalau mau dibreak down satu-satu sih bakal panjaaaaaang banget (e.g spesialisasi di luar negeri, alternatif karir non-klinis, etc.)

Tapi kira-kira begitulah perjalanan seseorang untuk menjadi dokter spesialis.

Sudah jadi residen

Blog ini sudah terbengkalai segitu lamanya.

Dari jaman internship terakhir di-update.. sekarang? Saya sudah residen urologi semester 8. Wakakak.

Niatnya sih dulu waktu awal-awal masuk punya niatan untuk sharing tentang dunia per-PPDS-an. Tapi apa mau dikata, kesibukan seorang junior residen ngelebihin sibuknya panitia pilkada.

Mungkin (kalo inget, punya niat serta waktu yang cukup) akan gue catch up secara umum perjalanan seorang residen bedah urologi.

Senin, 18 Maret 2013

Travel notes: Mata Jitu Waterfall, Moyo Island, Sumbawa



Oke sebelum kecewa, gue di sini mau nulis tentang pengalaman pergi ke Pulau Moyo. Bukan liburan a la Lady Di atau Bill Gates di Amanwana, tempatnya sih masih di pulau yang sama, tapi itu resort yang selain tamu emang ga boleh masuk, kecuali mau nyamar jadi pegawai yee. FYI, per malam di sana $800 + supplementary cost $135/orang. Jelas secara pendanaan, seorang dokter internsip gak bakal mampu nginep di sana.

Trip ini direncanain dadakan banget. Awalnya gara-gara di Pantai Kencana ada bapak-bapak lagi sepedahan ngajak ngobrol Bang Nico (kakaknya Sandry) trus bapak itu cerita tentang Pulau Moyo. Kakaknya Sandry emang dari awal penasaran dengan pulau ini. Di akhir pembicaraan Bang Nico dapet nomer nelayan yg bisa ngangkut kita pake kapalnya dengan harga Rp 600.000/kapal.

Ekspektasi awal kami tentang kapal ini emang gak boleh tinggi, namanya juga kapal nelayan. Udah ekspektasi gak tinggi, begitu liat kapalnya tetep aja kaget! Kecil banget cuy, udah gitu bakal diisi 10 orang termasuk Pak Kaharudin (nelayan). Suara mesin kapal cukup untuk membuat Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) apalagi paparan berjam-jam. Info awal perjalanan ke Moyo ini sekitar 1-2 jam, ternyata pas naik kapal dikasih tau kalo pake kapal ini perjalanan 3 jam lebih. Buat orang-orang yang mengutamakan keselamatan emang ga direkomendasi pake moda transportasi ini. Bisa naik Travira Air dari Denpasar ke Moyo mendarat di air dengan harga $400/orang/one-way.

bentukan kapalnya, diisi oleh 10 orang

Perjalanan pun dimulai. Walaupun kapalnya jalan di atas air, tapi getaran mesin rruaaarrr biasaaa. Getarnya bisa disamain sama getaran bajaj, bahkan lebih. Suer kaga pake bohong. Ibarat naik bajaj 3 jam dari Jakarta-Bandung lewat puncak.

Selama perjalanan, berbekal sedikit ilmu pengetahuan THT dan Kesehatan Okupasi, kami membuat tutup telinga darurat menggunakan kertas tissue dan kertas resep.
penutup telinga darurat, anti NIHL

Satu jam perjalanan, takjub dengan kejernihan laut Sumbawa. Walaupun gue liat gelas Ale-ale asik ngapung di tengah laut siih... Tapi masih membuat gue kagum.
Sekitar setengah perjalanan, tiba-tiba Pak Kaharudin pindah tempat duduk dan buka bagian bawah kapal. Dengan santainya dia ambil gayung dan ngomong “saya mau nimba, kapalnya bocor”. Oke, ini baru setengah perjalanan loh.
"saya mau nimba air, bocor kapalnya..."

Di ¾ perjalanan, kita dikagetkan dengan sirip-sirip di permukaan laut. Setelah diperhatikan, ternyata kawanan lumba-lumba! Mereka bener-bener loncat-loncat tinggi banget. Begitu kapal mendekat, mereka seperti ‘mengawal’ bajaj laut kami. Ini untuk kali pertamanya sih liat Lumba-lumba liar langsung di alam bebas. Selain lumba-lumba juga banyak ikan terbang yang lalu-lalang di sekitar kapal.


Video Lumba-lumba diambil pake kamera gue biar sekalian denger betapa berisiknya kapal ini.


Disambut Lumba-lumba
Jernih banget airnya
Pulau Moyo dari Kapal


Oke, sampailah kami di Pulau Moyo. Kami masuk dari perkampungan Labuhan Aji, Kecamatan Labuhan Badas. Penduduk sini hampir 50% adalah karyawan Amanwana Resort. Sisanya bekerja sebagai buruh tani, ternak, guru, atau berdagang.



Suasana Kampung di Pulau Moyo


Begitu sampe, langsung kencing di warung, terus makan siang di pinggir pantai. Pantai di perkampungan ini harusnya indah. Tapi masyarakatnya belum bisa merawat rumahnya sendiri. Sampah plastik bergelimpangan di atas pasir. Makanya trip kali ini gue ga terlalu main sama laut, pantai, dan sejenisnya. Bahkan guide kami buang sampah sembarangan, dan akhirnya malah kami yang mungut sampahnya dia.



View pantai di Labuhan Aji, Pulau Moyo

Selesai makan, kami langsung menuju ke Air Terjun Mata Jitu yang berjarak 4 km dari kampung ini dan ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Kami menyewa guide lokal yang pekerjaan sehari-hari adalah guru SD. Sebetulnya tanpa guide juga bisa sampe, karena jalannya cuma itu-itu aja. Tapi buat amannya dan ngasih pemasukan warga lokal akhirnya kami menyewa guide dengan biaya Rp 75.000,-.

Perjalanan ke Air Terjun Mata Jitu cukup melelahkan, apalagi bagi yang belum terbiasa trekking. Perjalanan menanjak landai dan sesekali banyak batu-batu kapur tajam di tengah jalan. Kami karena tanpa persiapan, pake sendal jepit aja naiknya. Sendal jepit ini memakan satu korban, Endrika kakinya melepuh karena gesekan sendal yang akhirnya putus di tengah jalan.

Jalan menuju Air Terjun Mata Jitu

Begitu sampe di Air Terjun rasa capek terbayar sudah. Hamparan sungai berair biru-muda-kehijauan dengan dasar batu kapur berwarna putih cukup untuk bikin gue ga bisa nahan diri untuk langsung nyebur. Airnya seger banget, ditambah ga ada orang sama sekali. Lingkungan bersih tanpa sampah.





Mata Jitu Waterfall

Begitu selesai main air, kami langsung turun karena kami dikejar waktu biar gak malem banget sampe di Labuhan Sumbawa. Di perjalanan pulang, cuaca cerah banget dan dapet ngeliat sunset sampe berubah jadi terang bulan sabit. Langitnya penuh bintang, bener-bener full kayak taburan pasir mengkilap, mungkin gue terlalu lebay kali ya liat langit begini. Di Jakarta sih jangan harap.



Suasana Perjalanan Pulang

Selasa, 19 Februari 2013

Catatan Dokter Internsip: Wahana Internsip


Rumah Sakit dan Puskesmas yang digunakan oleh dokter internsip disebut “Wahana Internsip”. Ketika disebut kata “wahana”, yang terpikir pertama kali oleh gue adalah Dufan! Setelah gue cek KBBI online, arti kata wahana adalah sebagai berikut:

1 wa.ha.na 1 a kendaraan; alat pengangkut ; 2 a alat atau sarana untuk mencapai suatu tujuan
2 wa.ha.na 1 a tafsir mimpi; alamat

Hmmm.. no comment.. oke, lanjut aja.

Berhubung gue ditugasnya 4 bulan pertama di RSUD Sumbawa, gue akan ceritain garis besar bentuk dan gambaran ‘wahana internsip’ gue.

RSUD ini termasuk cukup lengkap. Fasilitasnya mulai dari poliklinik (bedah, kebidanan, mata, anak, penyakit dalam, psikologi, dan THT), Kamar Operasi, Ruang Rawat Inap, ICU, Radiologi, Laboratorium, Fisioterapi, Pemulsaran Jenazah, dan IGD.

Sistem kerja dokter internsip di sini cukup menyenangkan dan sangat bermanfaat dari segi keilmuan. Kami bertugas di 4 bagian besar (bedah, obgyn, penyakit dalam, dan anak) selama masing-masing 4 minggu. Tiap bagian kita akan ditempatkan di poliklinik dan ruangan, masing-masing selama 2 minggu.

Kerja poli mulai pukul 08.00-13.00, sedangkan kerja ruangan mengikuti dokter spesialis. Pada rotasi bedah dan kandungan kami berkesempatan untuk ikut terlibat dalam kamar operasi dan mengikuti seluruh kegiatan operasi. Khusus untuk poli kadungan, kami juga diajari mengoperasikan dan memeriksa pasien kandungan menggunakan USG.

Berikut foto-foto penampakan RSUD Sumbawa:





Jalan Raya (view dari depan RSUD).

View dari RSUD menghadap Kantor Bupati.

Tampak depan.

Tampak halaman depan.

Lorong, ada penampakan The Legendary Ibu Yok perawat anak lagi bawa status pasien.

Ruang Komite Medik, tempat istirahat dan berkumpul para dokter.

Iqra lagi periksa pasien pake USG.

Mejeng di IGD sama dokter senior.

Moda transportasi dokter internsip, Ojek!


Sabtu, 16 Februari 2013

Berak dan Cebok, Cerita Masa TK


Kemarin sore gue dan temen-temen internsip ngobrol tentang profesi guru TK dan berujunglah dengan cerita memalukan masa kecil. Ya, berak di celana.

TK A (nol kecil) adalah puncaknya rekor gue berak di celana, saking seringnya gue gak inget berapa kali sampe menganggap berak di celana adalah hal biasa.

Gue kasitau dulu sebelumnya kalo gue baru pake celana dalem itu SD. Artinya, selama TK gue ga pernah kenal itu yang namanya celana dalem. Kebayang dong apa yang terjadi kalo bocah-tanpa-celana-dalem berak di celana. Eek langsung keluar lewat sela-sela paha (seragam TK waktu itu celana pendek). Apalagi kalo berdiri, tai langsung meluncur dari pantat turun ke paha terus berlanjut ke betis dan berujung di kaos kaki + sepatu, sisanya belecetan di lantai.

Celakanya kalo berak di celana, korbannya adalah temen-temen gue. Anak TK yang rasa penasarannya tinggi pasti pengen liat apa yg terjadi. Karena belum dibekali pengalaman yang matang, temen-temen gue yang pada penasaran ngeliat apa itu “tai” langsung muntah di tempat. Temen-temen lain yang udah agak pinteran dikit untuk tidak penasaran malah terkena imbas dari anak yg muntah ini. Ini lah yang jadi bencana, efek domino dimulai:

gue berak à temen liat berak à muntah à temen lain gak mau liat tai à tapi malah liat muntah à jijik à ikutan muntah.

Inilah tantangan guru TK, harus bisa memutus rantai berak-muntah ini. Akhirnya gue diboyong ke kamar mandi. Celana dicopot dan dicebokin. Inget lagi, guru TK itu harus bisa nyebokin bocah. Parahnya, saking seringnya juga, gue tetep menganggap dicebokin orang lain adalah hal biasa.

Ketika gue udah TK B (nol besar), gue udah mulai melatih bowel habit. Tiap pagi berusaha runtin berak, tapi tetep harus duduk di kloset dalam waktu yang lama. Terkadang ini yang bikin gue ketinggalan jemputan. Abang jemputan gue pun udah hapal, jadinya dia jemput anak lain di komplek dan baru jemput gue terakhir.

Walaupun udah dikeluarin pagi-pagi, kadang masih ada ampas yang minta keluar di sekolah. Dengan nahan sekuat tenaga, bulu tangan udah berdiri semua, keringet udah segede jagung akhirnya gue menyerah dengan maju ke depan kelas ijin untuk ke kamar mandi. Guru gue yg udah hapal pun langsung nanya “mau kencing apa eek?” *dulu belum ngetren istilah pup* dengan tegas gue jawab “ee’ bu guru!” “sudah bisa cebok sendiri kan?”. Karena gengsi sama temen lain, gue jawab “udah”. Padahal gue gak tau gimana caranya cebok, apalagi cebok pake sabun.

Alhasil, gue keluar kelas dan menuju kamar mandi. Gue dulu takut banget kalo masuk kamar mandi yang tertutup. Akhirnya gue berak dengan pintu kamar mandi terbuka. Setelah keluar semua, akhirnya datang juga waktu yang ditunggu-tunggu, CEBOK. Karena bener-bener gak tau caranya akhirnya gue jongkok lamaaaaa banget sampe akhirnya cleaning service menyadari keberadaan gue yang gak bergerak dari posisinya. Akhirnya dia nyamperin, dan gue bilang “mas, cebokin..”. 

Catatan Dokter Internsip: Hari Pemberangkatan


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Yaitu hari pemberangkatan rombongan internsip wilayah NTB. Namun untuk NTB pemberangkatan dipisah menjadi dua kelompok, karena secara geografis memang lebih efisien. Rombongan pertama yang berangkat pagi hari adalah wilayah Bima dan Dompu, kemudian disusul dengan rombongan Lombok Utara dan Sumbawa.

Untuk wilayah Bima-Dompu, mereka mendapat pengarahan di Bima. Sedangkan untuk Lombok-Sumbawa di Mataram.

Bergaya dulu di atas Kapal Ferry dari Lombok menuju Sumbawa
(Iqra - Endrika - Sandry - Yuki - Gue)

Setelah pengarahan di Hotel Grand Legi Mataram, rombongan Sumbawa langsung berangkat menuju Kota Sumbawa dengan menggunakan travel Sumbawa Utama. Dengan menggunakan 2 minibus, perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 6 jam (4 jam jalan darat + 2jam kapal feri). Kita tiba sekitar jam 10 malam, di rumah kos pertama kami yang berada di Gang Mamak.

Setelah  disambut dengan pembimbing (dr. Kosala dan dr. Cindri), kami diberikan nasi kotak. Rumah kos pertama kami termasuk ekonomis, karena dengan fasilitas yang didapat (AC, kamar mandi dalam) dikenakan biaya Rp. 700rb/bulan. Satu kamar diisi dengan dua tempat tidur, berarti kami hanya membayar 350rb/bulan/orang. Tapi lokasi kos ini cukup jauh dari RS maupun Puskesmas. Selain itu, kami juga mendengar kabar dari supir travel kami bahwa daerah pemukiman tersebut adalah daerah pemukiman Bali. Daerah pemukiman Bali dikenal dengan banyak anjing yang berkeliaran dan beberapa tempat penjualan minuman keras.

Setelah 2 malam kami tinggal di sana, akhirnya kita memutuskan untuk pindah ke rumah kos yang baru. Jaraknya hanya sekitar 7 menit jalan kaki ke Rumah Sakit dan sekitar 20 menit jalan kaki ke Puskesmas. Lingkungannya asri dan masjid hanya berjarak sekitar 3 rumah. Tapi biayanya 3 kali lipat. Hehehe..

Penampakan Tempat Kos yang Baru :)