Sabtu, 30 Maret 2019

Nasib Seorang Residen (pendahuluan)

Sebelum masuk ke cerita suka-duka menjadi residen gue pengen kasih tau dulu mengenai apa sih itu residensi.

Singkatnya, residensi itu adalah sistem pendidikan seorang dokter untuk menjadi dokter spesialis.

Nah, versi panjangnya begini nih..


Kata “Residen" berasal dari bahasa latin “residere” (remain). Dalam bahasa Inggris, kata “resident” diartikan sebagai (1) "a person who lives somewhere permanently or on a long-term basis”; (2) "a medical graduate engaged in specialized practice under supervision in a hospital.”

Sebetulnya dua-duanya ada benernya, karena…. poin (1) seorang residen itu lebih banyak menghabiskan waktu di RS (alias kagak pulang-pulang), dan yg poin (2) juga definisi lebih tepatnya untuk seoraang dokter yg sedang mengambil spesialisasi bidang tertentu.

“Residen" yg gue maksud di sini adalah nomor (2). Seorang lulusan dokter yang sedang mengambil spesialisasi di suatu RS (atau institusi lebih tepatnya). Kenapa gue sebut institusi, karena beda negara beda sistem. Hampir seluruh dunia, residensi itu hospital-based di mana residen itu dilatih sebagai seorang spesialis di satu rumah sakit. Berbeda dengan sistem di Indonesia yang University-based.

Di Indonesia, pendidikan spesialis diselenggarakan oleh universitas dalam bentuk Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Seorang dokter akan mendaftar sebagai murid lagi untuk belajar. Nah, implikasinya apa? (penting nih).

Kalau hospital-based, kalian mendaftar sebagai karyawan di RS tersebut. Jadi kalo karyawan kan bekerja, kalo kerja dapet gaji. Kalau di Indonesia, dengan sistem university-based, seorang dokter mendaftar lagi menjadi murid. Murid itu daftar sekolah, terus diterima, terus dikasih pelajaran, dan jangan lupa lo harus bayar uang sekolah. Gitu….

Tapi sekarang sih sudah ada sistem remunerasi bagi residen (katanya ga di semua center, tapi FKUI/RSCM ada dong). Meskipun, kalau dibandingkan dengan UMR memang jauh di bawah UMR. Residen junior rata-rata dapet 1 jutaan/bulan, residen tengah-tengah nyaris dapet 2 jutaan/bulan, residen senior dapet hampir 3 juta/bulan.

Remunerasi juga ga turun tiap bulan, sehingga para residen pun nganggep uang remun itu sebagai bonus aja gitu. Dapet sukur, ga dapet ya udah.

Jadi buat dedek-dedek yang bercita-cita menjadi dokter, silakan berpikir ulang. Karena betul kata orang-orang jaman dulu, dokter sekolahnya lama (kalo mau jadi spesialis). Karena lo harus jadi anak sekolah lagi setelah lulus menjadi dokter.

Dilemanya adalah, ketika lulus menjadi dokter (umur 20an awal) itu masuk usia produktif, di mana temen-temen kalian non dokter udah mulai kerja sebagai fresh graduate. Ya memang, kalau memang pengen sebagai dokter umum saja bisa langsung kerja (dengan THP berkisar 10-20 juta/bulan— kalo rajin).

Tapi, yaa kalau mau jadi spesialis harus sekolah lagi. Artinya, income lo minus (karena harus bayar uang sekolah). Lama pendidikan spesialis sekitar 4-6 tahun (tergantung spesialisasinya). Nah kebayang kan panjangnya pendidikan dokter untuk menjadi spesialis.


1. Kuliah S1 (S.Ked) — 3,5 - 4 tahun
2. Pendidikan Profesi (dr.) — 1,5 - 2 tahun
3. Internship — 1 tahun
4. Spesialis — 4-5 tahun

TOTAL 10 - 12 tahun SEKOLAH (kalo lancar)

Waktu tersebut belum ditambah dengan jeda menunggu antara lulus dan penempatan internship, di beberapa FK ada jeda antar stase sehingga pendidikan dokternya pun memanjang. Belum lagi jeda untuk menunggu pembukaan spesialis (2 kali setahun).

Ha.. ha.. ha.. Masih mau jadi dokter?

Masih dong, kalo memang tekad dan tujuan awal apapun harus dijalani. (Padahal gue baru tau begini setelah kecemplung wakakak)

Kalau mau dibreak down satu-satu sih bakal panjaaaaaang banget (e.g spesialisasi di luar negeri, alternatif karir non-klinis, etc.)

Tapi kira-kira begitulah perjalanan seseorang untuk menjadi dokter spesialis.

1 komentar:

Rangga mengatakan...

Slm kenal dok, sy sedang internship saat ini, dan sisa 1 bulan lg. Ijin bertanya, sy sngt minat di urologi, kira2 baiknya saya magang di rscm setelah ini dok? Mohon arahan nya bila berkenan dok, terimakasih